Senin, 30 Mei 2016

Project II - Tahap Penyelesaian Perangkat Lunak di Sebuah Perusahaan



Teknik Mengukur Durasi - pengalaman
1. Perkirakan jumlah minimal waktu yang dibutuhkan untuk melakukan tugas - durasi optimis (OD).
2. Perkirakan jumlah maksimum waktu yang dibutuhkan untuk melakukan tugas - durasi pesimis (PD).
3. Perkirakan diharapkan durasi (ED) yang akan dibutuhkan untuk melakukan tugas tersebut. - Gangguan dan keterlambatan waktu
4. Hitung rata-rata tertimbang dari yang paling mungkin durasi (D) sebagai berikut:

Berdasarkaan rumus dan petunjuk gambar diatas,
Ketika kita ingin menyelesaikan perangkat lunak di sebuah perusahaan kita harus memikirkan perkiraan project yang akan kita kerjakan.
dengan menggunakan rumus diatas kita akan menentukan
1. Ketika Kita memperkirakan jumlah minimal waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan perangkat lunak tersebut 2 hari,
2. Ketika kita memperkirakan jumlah maksimum waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan perangkat lunak tersebut 6 hari

3. Serta tidak lupa kita juga memperkirakan durasi yang kita harapkan untuk menyelesaikan perangkat lunak tersebut dengan memperkirakan gangguan dan keterlambatan waktu tersebut 3 hari

maka kita akan membaginya dengan 6 hari maksimal perkiraan yang kita perkirakan agar perangkat lunak tersebut terselesaikan 

maka ,waktu ideal perangkat lunak yang kita kerjakan akan memakan waktu 3 hari .
sebagai contohnya :

kita ingin membuat perangkat lunak disebuah perusahaan dengan waktu yang ideal
kita memperkirakan jumlah minimum waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan perangkat lunak tersebut 4 minggu
selanjutnya kita memperkirakan jumlah maksimum waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan perangkat lunak tersebut 8 minggu
Serta tidak lupa kita juga memperkirakan durasi yang kita harapkan untuk menyelesaikan perangkat lunak tersebut dengan memperkirakan gangguan dan keterlambatan waktu tersebut 2 minggu

ddengan menggunakan rumus di atas maka kita akan menyelesaikannya ddengan 2,5 minggu

D=(1 X 4 Minggu ) + (4 X 2 Minggu) +  (1 X 8 Minggu) / 8

= 4 + 8 + 8 / 8
= 2.5 Minggu

Pengembangan jadwal proyek :
-Tidak hanya jangka waktu tugas
-tetapi juga intertask dependensi
-Empat jenis dependensi intertask
   *Finish-to-start (FS): Akhir dari satu tugas memicu awal tugas lain.
   *Start-to-start (SS): Awal satu tugas memicu awal tugas lain.
   *Finish-to-finish (FF): Dua tugas harus selesai pada waktu yang sama.
   *Start-to-finish (SF): Awal satu tugas menandakan akhir dari tugas lain.

Tahapan penyelesaian Perangkat Lunak di sebuah perusahaan , dengan menentukan judul dan kapan idealnya perangkat lunak tersebut selesai dikerjakan.
I. Tujuan
II. latar belakang
      A. Masalah, peluang, atau pernyataan direktif
      B. Sejarah permintaan proyek
      C. Tujuan proyek
      D. Deskripsi Produk
III. Cakupan
      A. Stakeholder
      B. Pengetahuan
      C. Proses
      D. Komunikasi
IV. Pendekatan proyek
      A. Route
      B. Kerja
V. Pendekatan Manaterial
Pertimbangan bangunan
     A. Tim
    B. Manajer dan pengalaman 
    C. Pelatihan
    D. jadwal Rapat
    E. Pelaporan metode dan frekuensi manajemen
    F. Konflik
    G. Manajemen Cakupan
VI. kendala
Tanggal
    A. Mulai
    B. Batas Waktu
    C. Anggaran
    D. Teknologi
VII. Perkiraan kasarnya
    A. Sebuah jadwal
    B. Anggaran
VIII. Kondisi Kepuasan
Kriteria
    A. Sukses
    B. Asumsi
    C. Risiko

IX. lampiran

Secara konseptual siklus pengembangan sebuah sistem informasi adalah sebagai berikut :
1. Analisis Sistem: menganalisis dan mendefinisikan masalah dan kemungkinan solusinya untuk sistem informasi dan proses organisasi.
2. Perancangan Sistem: merancang output, input, struktur file, program, prosedur, perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan untuk mendukung sistem informasi
3. Pembangunan dan Testing Sistem: membangun perangkat lunak yang diperlukan untuk mendukung sistem dan melakukan testing secara akurat. Melakukan instalasi dan testing terhadap perangkat keras dan mengoperasikan perangkat lunak
4. Implementasi Sistem: beralih dari sistem lama ke sistem baru, melakukan pelatihan dan panduan seperlunya.
5. Operasi dan Perawatan: mendukung operasi sistem informasi dan melakukan perubahan atau tambahan fasilitas.
6. Evaluasi Sistem: mengevaluasi sejauih mana sistem telah dibangun dan seberapa bagus sistem telah dioperasikan.
Siklus tersebut berlangsung secara berulang-ulang. Siklus di atas merupakan model klasik dari pengembangan sistem informasi. Model-model baru, seperti prototyping, spiral, 4GT dan kombinasi dikembangkan dari model klasik di atas.
Analisis Sistem
Alasan pentingnya mengawali analisis sistem:
1.      Problem-solving: sistem lama tidak berfungsi sesuai dengan kebutuhan. Untuk itu analisis diperlukan untuk memperbaiki sistem sehingga dapat berfungsi sesuai dengan kebutuhan.
2.       Kebutuhan baru: adanya kebutuhan baru dalam organisasi atau lingkungan sehingga diperlukan adanya modifikasi atau tambahan sistem informasi untuk mendukung organisasi.

3.       Mengimplementasikan ide atau teknologi baru.

4.       Meningkatkan performansi sistem secara keseluruhan.

Perancangan Sistem.
Analisis sistem digunakan untuk menjawab pertanyaan what? Sedangkan desain digunakan untuk menjawab pertanyaan how? Desain berkonsentrasi pada bagaimana system dibangun untuk memenuhi kebutuhan pada fase analisis. Elemen-elemen pengetahuan yang berhubungan dengan proses desain:
1. Sumber daya organisasi: bertumpu pada 5 unsur organisasi, yaitu: man, machines, material, money dan methods.
2. Informasi kebutuhan dari pemakai: informasi yang diperoleh dari pemakai selama fase analisis sistem.
3. Kebutuhan sistem: hasil dari analisis sistem.
4. Metode pemrosesan data, apakah: manual, elektromechanical, puched card, atau computer base.
5. Operasi data. Ada beberapa operasi dasar data, antara lain: capture, classify, arrange, summarize, calculate, store, retrieve, reproduce dan disseminate.
6. Alat bantu desain, seperti: dfd, dcd, dd, decision table dll.

Langkah dasar dalam proses desain:
1. Mendefinisikan tujuan sistem (defining system goal), tidak hanya berdasarkan informasi pemakai, akan tetapi juga berupa telaah dari abstraksi dan karakteristik keseluruhan kebutuhan informasi sistem
2. Membangun sebuah model konseptual (develop a conceptual model), berupa gambaran sistem secara keseluruhan yang menggambarkan satuan fungsional sebagai unit sistem.
3. Menerapkan kendala organisasi (applying organizational contraints). Menerapkan kendala-kendala sistem untuk memperoleh sistem yang paling optimal. Elemen organisasi merupakan kendala, sedangkan fungsi-fungsi yang harus dioptimalkan adalah: performance, reliability, cost, instalation schedule, maintenability, flexibility, grouwth potensial, life expectancy. Model untuk sistem optimal dapat digambarkan sebagai sebuah model yang mengandung: kebutuhan sistem dan sumber daya organisasi sebagai input; faktor bobot terdiri atas fungsi-fungsi optimal di atas; dan total nilai yang harus dioptimalkan dari faktor bobot tersebut.
4. Mendefinisikan aktifitas pemrosesan data (defining data processing activities). Pendefinisian ini dapat dilakukan dengan pendekatan input-proses-output. Untuk menentukan hal ini diperlukan proses iteratif sebagai berikut
·         Mengidentifikasn output terpenting untuk mendukung/mencapai tujuan sistem (system’s goal)
·         Me-list field spesifik informasi yang diperlukan untuk menyediakan output tersebut
·         Mengidentifikasi input data spesifikik yang diperlukan untuk membangun field informasi yang diperlukan.
·         Mendeskripsikan operasi pemrosesan data yang diterapkan untuk mengolah input menjadi output yang diperlukan.
·         Mengidentifikasi elemen input yang menjadi masukan dan bagian yang disimpan selama pemrosesan input menjadi output.
·         Ulangi langkah tersebut terus menerus samapi semua output yang dibutuhkan diperoleh.
·         Bangun basis data yang akan mendukung efektifitas sistem untuk memenuhi kebutuhan sistem, cara pemrosesan data dan karakteristik data.
·         Berdasarakan kendala-kendala pembangunan sistem, prioritas pendukung, estimasi cost pembangunan; kurangi input, output dan pemrosesan yang ekstrim
·         Definisikan berbagai titik kontrol untuk mengatur aktifitas pemrosesan data yang menentukan kualitas umum pemrosesan data.
·         Selesaikan format input dan output yang terbaik untuk desain sistem.
5. Menyiapkan proposal sistem desain. Proposal ini diperlukan untuk manajemen apakah proses selanjutnya layak untuk dilanjutkan atau tidak. Hal-hal yang perlu disiapkan dalam penyusunan proposal ini adalah:
·         Menyatakan ulang tentang alasan untuk mengawali kerja sistem termasuk tujuan/objektif khusus dan yang berhubungan dengan kebutuhan user dan desain sistem.
·         Menyiapkan model yang sederhana akan tetapi menyeluruh sistem yang akan diajukan.
·         Menampilkan semua sumber daya yang tersedia untuk mengimplementasikan dan merawat sistem.
·         Mengidentifikasi asumsi kritis dan masalah yang belum teratasi yang mungkin berpengaruh terhadap desain sistem akhir.

Prinsip Dasar Desain.
 Ada 2 prinsip dasar desain, antara lain:
1.      Desain sistem monolitik. Ditekankan pada integrasi sistem. Resource mana yang bisa diintegrasikan untuk memperoleh sistem yang efektif terutama dalam cost.
2.      Desain sistem modular. Ditekankan pada pemecahan fungsi-fungsi yang memiliki idependensi rendah menjadi modul-modul (subsistem fungsional) yang terpisah sehingga memudahkan kita untuk berkonsentrasi mendesain per modul. Sebuah sistem informasi dapat dipecah menjadi 7 subsistem fungsional, yaitu: data collection, data processing, file update, data storage, data retrival, information report dan data processing controls.
 Petunjuk umum dalam desain subsistem fungsional sebuah sistem informasi:
1. Sumber data sebaiknya hanya dikumpulkan sekali sebagai input ke sistem informasi.
2. Akurasi sumber data sangat tergantung pada banyaknya langkah untuk me-record, collect dan prepare data untuk prosessing. Semakin sedikit langkah semakin akurat.
3. Data yang dihasilkan dari sistem berbasis komputer sebaiknya tidak dimasukkan lagi ke sistem.
4. Pewaktuan yang diperlukan untuk mengumpulkan data harus lebih kecil dari pewaktuan informasi tersebut diperlukan.
5. Perlu pemilihan cara pengumpulan data yang paling optimal
6. Pengumpulan data tidak harus on-line, melainkan tergantung dari kebutuhan informasi.
7. Semua sumber data harus dapat di validasi dan diedit segera setelah di kumpulkan.
8. Data yang sudah divalidasi, sebaiknya tidak divalidasi pada proses selanjutnya.
9. Total kontrol harus segera di cek lagi sebelum dan sesudah sebuah aktifitas prosesing yang besar dilakukan.
10. Data harus dapat disimpan hanya di 1 tempat dalam basis data kecuali ada kendala sistem.
11. Semua field data sebaiknya memiliki prosedur entri dan maintenance.
12. Semua data harus dapat dicetak dalam format yang berarti untuk keperluan audit.
13. File transaksi harus di maintain paling tidak dalam 1 siklus update ke basis data.
14. Prosedur backup dan security harus disediakan untuk semua field data.
15. Setiap file non sequential perlu memiliki prosedur reorganisasi secara periodik.
16. Semua field data harus memiliki tanggal update/akses penyimpanan terakhir.
Untuk menganalisa sistem secara efektif, kita membutuhkan lebih dari sekedar perangkat permodelan; yaitu metode. Metode ini dari waktu ke waktu berubah sesuai dengan perkembangan teknologi. Siklus ini cenderung menglami perubahan yang berarti dengan ditemukannya bahasa generasi keempat dan terakhir generasi kelima dimana pendekatan dengan paradigma object-oriented dan kompatibilitas antar model.
Pada dasarnya ada dua metode pendekatan dalam membangun sistem, yang pertama yaitu topdown. Pada metode ini sistem yang diturunkan dari pemetaan secara global yang kemudian akan menurun ke arah yang lebih deskriptif. Metode ini dianalogikan sebagai pembuatan rumah yang dimulai dari aspek yang paling mendasar yaitu pondasi hingga ke bagian terkecil misalnya sebuah kran pada kamar mandi. Metode kedua yaitu bottom-up, dimana sistem dipetakan dari satuan terkecil sehingga ke satuan terbesar, misalnya perakitan mobil. Pada awal 1980an mulai dikenal teknik pendesainan terstruktur dengan menggunakan konsep pararel dan siklus, misalnya antara uji coba program dan pemrograman dapat dilakukan kerja pararel dan seandainya ada sesuatu yang salah ketika implementasi maka dilakukan survey, analisa dan desain ulang yang menggantikan metode pendesainan klasik yang cenderung serial.
Pada prinsipnya aktivitas pendesainan sistem secara terstruktur melingkupi :
·         Survey ; berfungsi untuk mengetahui kebutuhan pemakai, kesalahan-kesalahan dalam sistem lama, menetapkan tujuan perancangan, mengajukan usulan otomasi sistem yang layak dan dapat diterima, dan menyiapkan laporan survey yang berisi tentang segala sesuatu, pada poin di atas.
·         Analisa sistem ; menggabungkan laporan survey dan kebijakan pemakai menjadi spesifikasi yang terstruktur dengan menggunakan permodelan.
·         Desain ; mengimplementasikan model yang diinginkan pemakai.
·         Implementasi ; merepresentasikan hasil desain ke dalam pemograman.
·         Uji coba desain ; menguji coba seluruh spesifikasi terstruktur.
·         Testing akhir ; menguji sistem secara keseluruhan.
·         Deskripsi prosedur ; pembuatan laporan teknis tertulis seperti petunjuk pemakaian dan pengoperasian.
·         Konversi database ; mengkonversi data, soalnya kata data sudah berarti jamak pada sistem sebelumnya.
·         Instalasi ; aspek terakhir yang mesti dilakukan mencakup, serah terima manual, perangkat keras dan pelatihan pemakaian.

PENDEKATAN PENGEMBANGAN SISTEM
Terdapat beberapa pendekatan dalam pengembangan system,antara lain :

a. Pendekatan Klasik

Disebut juga pendekatan tradisional/ konvensional. Pendekatan klasik mengembangkan sistem dengan tahapan-tahapan system life cycle. Pendekatan ini menekankan bahwa pengembangan akan berhasilbila mengikuti tahapan pada Sistem Life Cycle.
Permasalahan yang dapat timbul pada pendekatan klasik :
1.Pengembangan perangkat lunak akan menjadi sulit
2. Biaya perawatan dan pemeliharaan sistem akan menjadi mahal
3. Kemungkinan kesalahan sistem besar
4. Keberhasilan sistem kurang terjamin
b. Pendekatan Terstruktur
Pendekatan terstruktur akan dilengkapi dengan alat-alat dan teknik-teknik yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem, sehingga hasil akhir dari sistem yang dikembangkan akan didapatkan sistem yang strukturnya didefinisikan dengan baik dan jelas. Beberapa metodologi pengembangan sistem yang terstruktur telah banyak yang diperkenalkan dalam buku-buku maupun perusahaan-perusahaan konsultan pengembang sistem. Metodologi ini memperkenalkan penggunaa alat-alat dan teknik-teknik untuk pengembangan sistem yang terstruktur.
Konsep pengembangan sistem terstruktur bukan merupakan konsep yang baru. Teknik perakitan di pabrik dan sirkuit untuk alat elektronik adalah dua contoh baru konsep ini yang banyak digunakan di industri. Konsep ini relatif masih baru dalam pengembangan sistem informasi untuk menghasilkan produk sistem yang memuaskan hasilnya. Melalui pendekatan struktur,permasalahan yang kompleks dalam organisasi dapat dipecahkan dan hasil dari produktifitas dan kualitasnya lebih baik ( bebas kesalahan ).
Keuntungan pendekatan terstruktur :
a. Mengurangi kerumitan masalah
b. Konsep mengarah pada sistem yang ideal
c. Standarisasi
d. Orientasi kemassa datang

c. Pendekatan dari bawah ke atas
Pendekatan ini dimulai dari level bawah organisasi, yaitu level operasional dimana transaksi dilakukan. Pendekatan ini dimulai dari perumusan kebutuhan untuk menangani transaksi dan naik ke level atas dengan merumuskan kebutuhan informasi berdasarkan transaksi tersebut. Pendekatan ini ciri-ciri dari pendekatan klasik. Pendekatan dari bawah ke atas bila digunakan pada tahap analisis sistem disebut juga dengan istilah data analisis, karena yang menjadi tekanan adalah data
yang akan di olah terlebih dahulu, informasi yang akan dihasilkan menyusul mengikuti datanya.
d. Pendekatan dari atas ke bawah
Pendekatan dari ats ke bawah (Top down approach) dimulai dari level atas organisasi, yaitu level perencanaan strategi. Pendekatan ini dimulai dengan mendefinisikan sasaran dan kebijaksanaan organisasi. Langkah selanjutnya dari pendekatan ini adalah dilakukannya analisis kebutuhan informasi. Setelah kebutuhan informasi ditentukan, maka proses turun ke pemrosesan transaksi yaitu penentuan output,input, basis data, prosedur operasi dan kontrol. Pendekatan ini juga merupakan ciri-ciri pendekatan terstruktur. Pendekatan atas turun bila digunakan pada tahap analisis sistem disebut juga dengan istilah decision analysis, karena yang menjadi tekanan adalah informasi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan oleh manajemen terlebih dahuli kemudian data yang perlu dipilah didefinisikan menyusut mengikuti informasi yang dibutuhkan.
e. Pendekatan Sepotong ( placemeal approach )
Pengembangan yang menekankan pada suatu kegiatan tertentu tanpa memperhatikan posisinya/sasaran di sistem informasi secara global.
f. Pendekatan sistem ( sistem approach )
Memperhatikan sistem informasi sebagai satu kesatuan terintregasi untuk masing-masing kegiatan aplikasinya dadn menekankan sasaran organisasinya secara global.
g. Pendekatan sistem menyeluruh ( total sistem approach )
Pendekatan pengembangan sistem serentak secara menyeluruh sehingga menjadi sulit untuk dikembangkan ( ciri klasik ).
h. Pendekatan modular ( Modular approach )
Pendekatan dengan memecah sistem komplek menjadi modul yang sederhana sehingga sistem lebih mudah dipahami dan dikembangkan, tepat waktu, mudah di pelihara ( ciri terstruktur ).
i. Lompatan jauh
Pendekatan yang menerangkan perubahan menyeluruh secara serentak menggunakan teknologi canggih sehingga mengandung resiko tinggi, terlalu mahal, sulit
dikembangkan karena terlalu komplek.

j. Pendekatan berkembang

Pendekatan yang menerapkan teknologi canggih hanya untuk aplikasi yang memerlukan saja dan terus dikembangkan untuk periode berikutnya mengikuti kebutuhan dan teknologi yang ada.

0 komentar:

Posting Komentar

Template by:

Free Blog Templates