Teknik
Mengukur Durasi - pengalaman
1. Perkirakan jumlah minimal waktu yang dibutuhkan untuk melakukan tugas - durasi optimis (OD).
2. Perkirakan jumlah maksimum waktu yang dibutuhkan untuk melakukan tugas - durasi pesimis (PD).
3. Perkirakan diharapkan durasi (ED) yang akan dibutuhkan untuk melakukan tugas tersebut. - Gangguan dan keterlambatan waktu
4. Hitung rata-rata tertimbang dari yang paling mungkin durasi (D) sebagai berikut:
1. Perkirakan jumlah minimal waktu yang dibutuhkan untuk melakukan tugas - durasi optimis (OD).
2. Perkirakan jumlah maksimum waktu yang dibutuhkan untuk melakukan tugas - durasi pesimis (PD).
3. Perkirakan diharapkan durasi (ED) yang akan dibutuhkan untuk melakukan tugas tersebut. - Gangguan dan keterlambatan waktu
4. Hitung rata-rata tertimbang dari yang paling mungkin durasi (D) sebagai berikut:
Berdasarkaan
rumus dan petunjuk gambar diatas,
Ketika kita
ingin menyelesaikan perangkat lunak di sebuah perusahaan kita harus memikirkan
perkiraan project yang akan kita kerjakan.
dengan
menggunakan rumus diatas kita akan menentukan
1. Ketika
Kita memperkirakan jumlah minimal waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan
perangkat lunak tersebut 2 hari,
2. Ketika
kita memperkirakan jumlah maksimum waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan
perangkat lunak tersebut 6 hari
3. Serta
tidak lupa kita juga memperkirakan durasi yang kita harapkan untuk
menyelesaikan perangkat lunak tersebut dengan memperkirakan gangguan dan
keterlambatan waktu tersebut 3 hari
maka kita
akan membaginya dengan 6 hari maksimal perkiraan yang kita perkirakan agar
perangkat lunak tersebut terselesaikan
maka ,waktu
ideal perangkat lunak yang kita kerjakan akan memakan waktu 3 hari .
sebagai
contohnya :
kita ingin membuat perangkat lunak disebuah perusahaan dengan waktu yang ideal
kita memperkirakan jumlah minimum waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan perangkat lunak tersebut 4 minggu
selanjutnya kita memperkirakan jumlah maksimum waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan perangkat lunak tersebut 8 minggu
Serta tidak lupa kita juga memperkirakan durasi yang kita harapkan untuk menyelesaikan perangkat lunak tersebut dengan memperkirakan gangguan dan keterlambatan waktu tersebut 2 minggu
ddengan menggunakan rumus di atas maka kita akan menyelesaikannya ddengan 2,5 minggu
D=(1 X 4 Minggu ) + (4 X 2 Minggu) + (1 X 8 Minggu) / 8
= 4 + 8 + 8 / 8
= 2.5 Minggu
kita ingin membuat perangkat lunak disebuah perusahaan dengan waktu yang ideal
kita memperkirakan jumlah minimum waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan perangkat lunak tersebut 4 minggu
selanjutnya kita memperkirakan jumlah maksimum waktu yang kita butuhkan untuk menyelesaikan perangkat lunak tersebut 8 minggu
Serta tidak lupa kita juga memperkirakan durasi yang kita harapkan untuk menyelesaikan perangkat lunak tersebut dengan memperkirakan gangguan dan keterlambatan waktu tersebut 2 minggu
ddengan menggunakan rumus di atas maka kita akan menyelesaikannya ddengan 2,5 minggu
D=(1 X 4 Minggu ) + (4 X 2 Minggu) + (1 X 8 Minggu) / 8
= 4 + 8 + 8 / 8
= 2.5 Minggu
Pengembangan
jadwal proyek :
-Tidak hanya
jangka waktu tugas
-tetapi juga
intertask dependensi
-Empat jenis
dependensi intertask
*Finish-to-start (FS): Akhir dari satu tugas memicu awal tugas lain.
*Start-to-start (SS): Awal satu tugas memicu awal tugas lain.
*Finish-to-finish (FF): Dua tugas harus selesai pada waktu yang sama.
*Start-to-finish (SF): Awal satu tugas menandakan akhir dari tugas lain.
Tahapan penyelesaian Perangkat Lunak di sebuah perusahaan , dengan menentukan judul dan kapan idealnya perangkat lunak tersebut selesai dikerjakan.
Tahapan penyelesaian Perangkat Lunak di sebuah perusahaan , dengan menentukan judul dan kapan idealnya perangkat lunak tersebut selesai dikerjakan.
I. Tujuan
II. latar
belakang
A. Masalah, peluang, atau pernyataan direktif
B. Sejarah permintaan proyek
C. Tujuan proyek
D. Deskripsi Produk
III. Cakupan
A. Stakeholder
B. Pengetahuan
C. Proses
D. Komunikasi
IV.
Pendekatan proyek
A. Route
B. Kerja
V. Pendekatan
Manaterial
Pertimbangan
bangunan
A. Tim
B. Manajer dan pengalaman
C. Pelatihan
D. jadwal Rapat
E. Pelaporan metode dan frekuensi manajemen
F. Konflik
G. Manajemen Cakupan
VI. kendala
Tanggal
A. Mulai
B. Batas Waktu
C. Anggaran
D. Teknologi
VII.
Perkiraan kasarnya
A. Sebuah jadwal
B. Anggaran
VIII. Kondisi
Kepuasan
Kriteria
A. Sukses
B. Asumsi
C. Risiko
IX. lampiran
Secara
konseptual siklus pengembangan sebuah sistem informasi adalah sebagai berikut :
1.
Analisis Sistem: menganalisis dan mendefinisikan masalah dan kemungkinan
solusinya untuk sistem informasi dan proses organisasi.
2.
Perancangan Sistem: merancang output, input, struktur file, program, prosedur,
perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan untuk mendukung sistem
informasi
3.
Pembangunan dan Testing Sistem: membangun perangkat lunak yang diperlukan untuk
mendukung sistem dan melakukan testing secara akurat. Melakukan instalasi dan
testing terhadap perangkat keras dan mengoperasikan perangkat lunak
4.
Implementasi Sistem: beralih dari sistem lama ke sistem baru, melakukan
pelatihan dan panduan seperlunya.
5.
Operasi dan Perawatan: mendukung operasi sistem informasi dan melakukan
perubahan atau tambahan fasilitas.
6.
Evaluasi Sistem: mengevaluasi sejauih mana sistem telah dibangun dan seberapa
bagus sistem telah dioperasikan.
Siklus
tersebut berlangsung secara berulang-ulang. Siklus di atas merupakan model
klasik dari pengembangan sistem informasi. Model-model baru, seperti
prototyping, spiral, 4GT dan kombinasi dikembangkan dari model klasik di atas.
Analisis
Sistem
Alasan
pentingnya mengawali analisis sistem:
1.
Problem-solving: sistem lama
tidak berfungsi sesuai dengan kebutuhan. Untuk itu analisis diperlukan untuk
memperbaiki sistem sehingga dapat berfungsi sesuai dengan kebutuhan.
2.
Kebutuhan baru: adanya kebutuhan baru dalam
organisasi atau lingkungan sehingga diperlukan
adanya modifikasi atau tambahan sistem informasi untuk mendukung organisasi.
3. Mengimplementasikan ide atau teknologi baru.
4. Meningkatkan performansi sistem secara
keseluruhan.
Perancangan
Sistem.
Analisis
sistem digunakan untuk menjawab pertanyaan what? Sedangkan desain digunakan
untuk menjawab pertanyaan how? Desain berkonsentrasi pada bagaimana system
dibangun untuk memenuhi kebutuhan pada fase analisis. Elemen-elemen pengetahuan
yang berhubungan dengan proses desain:
1.
Sumber daya organisasi: bertumpu pada 5 unsur organisasi, yaitu: man, machines,
material, money dan methods.
2.
Informasi kebutuhan dari pemakai: informasi yang diperoleh dari pemakai selama
fase analisis sistem.
3.
Kebutuhan sistem: hasil dari analisis sistem.
4.
Metode pemrosesan data, apakah: manual, elektromechanical, puched card, atau
computer base.
5.
Operasi data. Ada beberapa operasi dasar data, antara lain: capture, classify,
arrange, summarize, calculate, store, retrieve, reproduce dan disseminate.
6.
Alat bantu desain, seperti: dfd, dcd, dd, decision table dll.
Langkah
dasar dalam proses desain:
1.
Mendefinisikan tujuan sistem (defining system goal), tidak hanya berdasarkan
informasi pemakai, akan tetapi juga berupa telaah dari abstraksi dan
karakteristik keseluruhan kebutuhan informasi sistem
2.
Membangun sebuah model konseptual (develop a conceptual model), berupa gambaran
sistem secara keseluruhan yang menggambarkan satuan fungsional sebagai unit
sistem.
3.
Menerapkan kendala organisasi (applying organizational contraints). Menerapkan
kendala-kendala sistem untuk memperoleh sistem yang paling optimal. Elemen
organisasi merupakan kendala, sedangkan fungsi-fungsi yang harus dioptimalkan
adalah: performance, reliability, cost, instalation schedule, maintenability,
flexibility, grouwth potensial, life expectancy. Model untuk sistem optimal
dapat digambarkan sebagai sebuah model yang mengandung: kebutuhan sistem dan
sumber daya organisasi sebagai input; faktor bobot terdiri atas fungsi-fungsi
optimal di atas; dan total nilai yang harus dioptimalkan dari faktor bobot
tersebut.
4.
Mendefinisikan aktifitas pemrosesan data (defining data processing activities).
Pendefinisian ini dapat dilakukan dengan pendekatan input-proses-output. Untuk
menentukan hal ini diperlukan proses iteratif sebagai berikut
·
Mengidentifikasn output
terpenting untuk mendukung/mencapai tujuan sistem (system’s goal)
·
Me-list field spesifik
informasi yang diperlukan untuk menyediakan output tersebut
·
Mengidentifikasi input data
spesifikik yang diperlukan untuk membangun field informasi yang diperlukan.
·
Mendeskripsikan operasi
pemrosesan data yang diterapkan untuk mengolah input menjadi output yang
diperlukan.
·
Mengidentifikasi elemen
input yang menjadi masukan dan bagian yang disimpan selama pemrosesan input
menjadi output.
·
Ulangi langkah tersebut
terus menerus samapi semua output yang dibutuhkan diperoleh.
·
Bangun
basis data yang akan mendukung efektifitas sistem untuk memenuhi kebutuhan
sistem, cara pemrosesan data dan karakteristik data.
·
Berdasarakan kendala-kendala
pembangunan sistem, prioritas pendukung, estimasi cost pembangunan; kurangi
input, output dan pemrosesan yang ekstrim
·
Definisikan berbagai titik
kontrol untuk mengatur aktifitas pemrosesan data yang menentukan kualitas umum
pemrosesan data.
·
Selesaikan format input dan
output yang terbaik untuk desain sistem.
5.
Menyiapkan proposal sistem desain. Proposal ini diperlukan untuk manajemen
apakah proses selanjutnya layak untuk dilanjutkan atau tidak. Hal-hal yang
perlu disiapkan dalam penyusunan proposal ini adalah:
·
Menyatakan ulang tentang
alasan untuk mengawali kerja sistem termasuk tujuan/objektif khusus dan yang
berhubungan dengan kebutuhan user dan desain sistem.
·
Menyiapkan model yang
sederhana akan tetapi menyeluruh sistem yang akan diajukan.
·
Menampilkan semua sumber
daya yang tersedia untuk mengimplementasikan dan merawat sistem.
·
Mengidentifikasi asumsi
kritis dan masalah yang belum teratasi yang mungkin berpengaruh terhadap desain
sistem akhir.
Prinsip
Dasar Desain.
Ada 2
prinsip dasar desain, antara lain:
1.
Desain sistem monolitik.
Ditekankan pada integrasi sistem. Resource mana yang bisa diintegrasikan untuk memperoleh
sistem yang efektif terutama dalam cost.
2.
Desain sistem modular.
Ditekankan pada pemecahan fungsi-fungsi yang memiliki idependensi rendah
menjadi modul-modul (subsistem fungsional) yang terpisah sehingga memudahkan
kita untuk berkonsentrasi mendesain per modul. Sebuah sistem informasi dapat
dipecah menjadi 7 subsistem fungsional, yaitu: data collection, data
processing, file update, data storage, data retrival, information report dan
data processing controls.
Petunjuk umum dalam desain subsistem fungsional
sebuah sistem informasi:
1.
Sumber data sebaiknya hanya dikumpulkan sekali sebagai input ke sistem
informasi.
2.
Akurasi sumber data sangat tergantung pada banyaknya langkah untuk me-record,
collect dan prepare data untuk prosessing. Semakin sedikit langkah semakin
akurat.
3.
Data yang dihasilkan dari sistem berbasis komputer sebaiknya tidak dimasukkan
lagi ke sistem.
4.
Pewaktuan yang diperlukan untuk mengumpulkan data harus lebih kecil dari
pewaktuan informasi tersebut diperlukan.
5.
Perlu pemilihan cara pengumpulan data yang paling optimal
6.
Pengumpulan data tidak harus on-line, melainkan tergantung dari kebutuhan
informasi.
7.
Semua sumber data harus dapat di validasi dan diedit segera setelah di
kumpulkan.
8.
Data yang sudah divalidasi, sebaiknya tidak divalidasi pada proses selanjutnya.
9.
Total kontrol harus segera di cek lagi sebelum dan sesudah sebuah aktifitas
prosesing yang besar dilakukan.
10.
Data harus dapat disimpan hanya di 1 tempat dalam basis data kecuali ada
kendala sistem.
11.
Semua field data sebaiknya memiliki prosedur entri dan maintenance.
12.
Semua data harus dapat dicetak dalam format yang berarti untuk keperluan audit.
13.
File transaksi harus di maintain paling tidak dalam 1 siklus update ke basis
data.
14. Prosedur
backup dan security harus disediakan untuk semua field data.
15.
Setiap file non sequential perlu memiliki prosedur reorganisasi secara
periodik.
16. Semua field data harus memiliki tanggal update/akses
penyimpanan terakhir.
Untuk
menganalisa sistem secara efektif, kita membutuhkan lebih dari sekedar
perangkat permodelan; yaitu metode. Metode ini dari waktu ke waktu berubah
sesuai dengan perkembangan teknologi. Siklus ini cenderung menglami perubahan
yang berarti dengan ditemukannya bahasa generasi keempat dan terakhir generasi
kelima dimana pendekatan dengan paradigma object-oriented dan kompatibilitas
antar model.
Pada
dasarnya ada dua metode pendekatan dalam membangun sistem, yang pertama yaitu
topdown. Pada metode ini sistem yang diturunkan dari pemetaan secara global
yang kemudian akan menurun ke arah yang lebih deskriptif. Metode ini
dianalogikan sebagai pembuatan rumah yang dimulai dari aspek yang paling
mendasar yaitu pondasi hingga ke bagian terkecil misalnya sebuah kran pada
kamar mandi. Metode kedua yaitu bottom-up, dimana sistem dipetakan dari satuan
terkecil sehingga ke satuan terbesar, misalnya perakitan mobil. Pada awal
1980an mulai dikenal teknik pendesainan terstruktur dengan menggunakan konsep
pararel dan siklus, misalnya antara uji coba program dan pemrograman dapat
dilakukan kerja pararel dan seandainya ada sesuatu yang salah ketika
implementasi maka dilakukan survey, analisa dan desain ulang yang menggantikan
metode pendesainan klasik yang cenderung serial.
Pada
prinsipnya aktivitas pendesainan sistem secara terstruktur melingkupi :
·
Survey ; berfungsi untuk
mengetahui kebutuhan pemakai, kesalahan-kesalahan dalam sistem lama, menetapkan
tujuan perancangan, mengajukan usulan otomasi sistem yang layak dan dapat
diterima, dan menyiapkan laporan survey yang berisi tentang segala sesuatu,
pada poin di atas.
·
Analisa sistem ;
menggabungkan laporan survey dan kebijakan pemakai menjadi spesifikasi yang
terstruktur dengan menggunakan permodelan.
·
Desain ; mengimplementasikan
model yang diinginkan pemakai.
·
Implementasi ;
merepresentasikan hasil desain ke dalam pemograman.
·
Uji coba desain ; menguji
coba seluruh spesifikasi terstruktur.
·
Testing akhir ; menguji
sistem secara keseluruhan.
·
Deskripsi prosedur ;
pembuatan laporan teknis tertulis seperti petunjuk pemakaian dan pengoperasian.
·
Konversi database ;
mengkonversi data, soalnya kata data sudah berarti jamak pada sistem
sebelumnya.
·
Instalasi ; aspek terakhir
yang mesti dilakukan mencakup, serah terima manual, perangkat keras dan
pelatihan pemakaian.
PENDEKATAN
PENGEMBANGAN SISTEM
Terdapat beberapa
pendekatan dalam pengembangan system,antara lain :
a. Pendekatan Klasik
Disebut
juga pendekatan tradisional/ konvensional. Pendekatan klasik mengembangkan
sistem dengan tahapan-tahapan system life cycle. Pendekatan ini menekankan
bahwa pengembangan akan berhasilbila mengikuti tahapan pada Sistem Life Cycle.
Permasalahan
yang dapat timbul pada pendekatan klasik :
1.Pengembangan
perangkat lunak akan menjadi sulit
2.
Biaya perawatan dan pemeliharaan sistem akan menjadi mahal
3.
Kemungkinan kesalahan sistem besar
4.
Keberhasilan sistem kurang terjamin
b. Pendekatan Terstruktur
Pendekatan
terstruktur akan dilengkapi dengan alat-alat dan teknik-teknik yang dibutuhkan
dalam pengembangan sistem, sehingga hasil akhir dari sistem yang dikembangkan
akan didapatkan sistem yang strukturnya didefinisikan dengan baik dan jelas.
Beberapa metodologi pengembangan sistem yang terstruktur telah banyak yang
diperkenalkan dalam buku-buku maupun perusahaan-perusahaan konsultan pengembang
sistem. Metodologi ini memperkenalkan penggunaa alat-alat dan teknik-teknik
untuk pengembangan sistem yang terstruktur.
Konsep
pengembangan sistem terstruktur bukan merupakan konsep yang baru. Teknik
perakitan di pabrik dan sirkuit untuk alat elektronik adalah dua contoh baru
konsep ini yang banyak digunakan di industri. Konsep ini relatif masih baru
dalam pengembangan sistem informasi untuk menghasilkan produk sistem yang
memuaskan hasilnya. Melalui pendekatan struktur,permasalahan yang kompleks
dalam organisasi dapat dipecahkan dan hasil dari produktifitas dan kualitasnya
lebih baik ( bebas kesalahan ).
Keuntungan
pendekatan terstruktur :
a.
Mengurangi kerumitan masalah
b.
Konsep mengarah pada sistem yang ideal
c.
Standarisasi
d.
Orientasi kemassa datang
c. Pendekatan dari bawah ke atas
Pendekatan
ini dimulai dari level bawah organisasi, yaitu level operasional dimana
transaksi dilakukan. Pendekatan ini dimulai dari perumusan kebutuhan untuk
menangani transaksi dan naik ke level atas dengan merumuskan kebutuhan
informasi berdasarkan transaksi tersebut. Pendekatan ini ciri-ciri dari
pendekatan klasik. Pendekatan dari bawah ke atas bila digunakan pada tahap
analisis sistem disebut juga dengan istilah data analisis, karena yang menjadi
tekanan adalah data
yang
akan di olah terlebih dahulu, informasi yang akan dihasilkan menyusul mengikuti
datanya.
d. Pendekatan dari atas ke bawah
Pendekatan
dari ats ke bawah (Top down approach) dimulai dari level atas
organisasi, yaitu level perencanaan strategi. Pendekatan ini dimulai dengan mendefinisikan
sasaran dan kebijaksanaan organisasi. Langkah selanjutnya dari pendekatan ini
adalah dilakukannya analisis kebutuhan informasi. Setelah kebutuhan informasi
ditentukan, maka proses turun ke pemrosesan transaksi yaitu penentuan
output,input, basis data, prosedur operasi dan kontrol. Pendekatan ini juga
merupakan ciri-ciri pendekatan terstruktur. Pendekatan atas turun bila
digunakan pada tahap analisis sistem disebut juga dengan istilah decision
analysis, karena yang menjadi tekanan adalah informasi yang dibutuhkan untuk
pengambilan keputusan oleh manajemen terlebih dahuli kemudian data yang perlu
dipilah didefinisikan menyusut mengikuti informasi yang dibutuhkan.
e. Pendekatan Sepotong ( placemeal approach )
Pengembangan
yang menekankan pada suatu kegiatan tertentu tanpa memperhatikan
posisinya/sasaran di sistem informasi secara global.
f. Pendekatan sistem ( sistem approach )
Memperhatikan
sistem informasi sebagai satu kesatuan terintregasi untuk masing-masing
kegiatan aplikasinya dadn menekankan sasaran organisasinya secara global.
g. Pendekatan sistem menyeluruh ( total sistem
approach )
Pendekatan
pengembangan sistem serentak secara menyeluruh sehingga menjadi sulit untuk
dikembangkan ( ciri klasik ).
h. Pendekatan modular ( Modular approach )
Pendekatan
dengan memecah sistem komplek menjadi modul yang sederhana sehingga sistem
lebih mudah dipahami dan dikembangkan, tepat waktu, mudah di pelihara ( ciri
terstruktur ).
i. Lompatan jauh
Pendekatan
yang menerangkan perubahan menyeluruh secara serentak menggunakan teknologi
canggih sehingga mengandung resiko tinggi, terlalu mahal, sulit
dikembangkan
karena terlalu komplek.
j. Pendekatan berkembang
Pendekatan
yang menerapkan teknologi canggih hanya untuk aplikasi yang memerlukan saja dan
terus dikembangkan untuk periode berikutnya mengikuti kebutuhan dan teknologi
yang ada.

0 komentar:
Posting Komentar